ensikLOVEdia

Sabtu, 28 November 2009
Pagi itu rembulan belum pergi,namun sang surya sudah tak sabar tuk menyinari.perlahan lahan ia tampakkan dirinya,memeluk dunia dengan hangatnya,serta menyelimuti dunia dengan kilau cahayanya.kicau burung belibis di pepucukan cemara menambah semarak pagi gembira. Entah mengapa pagi tu aku terpanggil untuk berangkat ke sekolah lebih awal dari biasanya. Perlahan kukayuh sepeda dengan keraguan yang meraung didalam kalbu. Entah apa yang akan terjadi aku tak tahu. Rasa risau sekan bergelayut dalam hati sanubariku. Pikiranku melayang ,mengawang –awang entah apa yang aku pikirkan.
“Pagi bener nich,” sapa Rahma yang dari tadi ternyata dari tadi telah ada disampingku membuyarkan semua asa yang berekcamuk dalam batinku. Ia adalah teman sekolahku. Kelas kami memang berbeda , ia duduk dikelas Tiga B sedangkan aku duduk di kelas 3 C. yach,di sekolahku anak putra dan putri memang di pisah.
“Biasa ajach kale’. Loe ja’ kali yang baru nengo’ “
“O yach, ada salam tuch “
“Dari sape ? “ Aku penasaran
“The Smartes girl di kelas aku itu lho !,”
“Siapa yach ?,”
“Itu lho, Iin “
“Ooh,” Aku mulai ingat. Yach aku memang pernah denger nama itu. Tapi tak pernah aku tahu rupa wajah cewek yang disebutkan oleh Rahma itu. Aku hanya tahu dia adalah Santri putri yang pernah jadian dengan temanku Andra. Kebetulan Andra sering bercerita tentang dirinya kepadaku.
“Woy, kok ngelamun,”
“Enggak kok,”
“O yach udah dulu nich, aku mo cepetan,”
“Yah udah buruan sana !” Rahma memepercepat laju motornya kembali meninggalkan aku dalam lamunan dalamku yang penuh rasa ingin tahu. Kembali loe melamun mencoba menggali ingatanku tentang semua cerita Andra tentang mantan kekasihnya itu. Ingin rasanya aku mengenalnya karena telah aku penasaran akan rupa cewek yang dulu dibanggakan Andra dalam setiap cerita. Penasaran aku akan rupa wajahnya yang kabarnya cantik jelita.
Tak terasa tibalah aku di sekolah. Namun, penasaran yang berkecamuk dalam dadaku tak kunjung hilang. Kucoba untuk memendam semua perasaan kurang nyaman ini, tapi sayang aku tak mampu. Perasaan itu sekan-akan memaksa aku tuk mengenal Iin lebih jauh. Pikiranku semakin kacau. Bahkan, saat jam belajar tak kuasa aku untuk memeperhatikan. Rasanya ingin aku beranjak pulang kemudian tidur untuk melupakan semua yang terjadi. Namun dalam hati kuputuskan sesuatu. Kan kukirimkan sepucuk surat tanda perkenalan pada dirinya. Paling tidak, aku akan sedikit mengenal dirinya sehingga hilanglah penasaranku akan dirinya. Namun pagi tu tetaplah kelabu. Seakan-akan kabul tebal menyelimuti kalbu.
Senja hari, kutatap cakrawala di batas mega. Nun jauh disana cahaya keemasan di kaki langit dunia. Perlahan kutorehkan kata lewat ujung pena di atas kertas polos tak berwarna. Kucurahkan semua kata yang hendak kutanyapada dirinya. Walau begitu ringkas namun kuyakin akan penuh makna. Karena setiap kata yang ku tulis merupaka curahan asa yang bergemuruh di jiwa. Sayup-sayup Adzan Maghrib menggema di langit dunia. Kulipat surat yang telah kutulis dan ku pendam dalam saku baju kokoku. Perlahan aku bangkit dari tempat duduk untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, Shalat Maghrib. Sejenak ku lupakan semua kerisauan di hatiku.
*****
Pagi ini tak seperti hari kemarin. Aku berangkat pagi bukan karena ada sesuatu yang memaksa, melainkan karena keinginanku untuk bertemu Rahma lagi untuk menitipkan surat untuk Iin. Kukayuh sepedaku dengan sedikit cepat. Tak ada sesuatau yang menghalangiku lagi. Entah mengapa aku hari ini begitu semangat. Semangatku bagaikan semanagt seorang kekasih yang tak sabar tuk menemui sang pelita hati. Waktu baru menunjukkan pukul enam, tapi aku telah berdiri menunggu kedatangan Rahma di epan sekolah. Berjalan aku mondar – mondir untuk menghilangkan letihnya menunggu.
“Nunggu Siapa Yo,” Tanya Ndut temanku yang duduk dikelas 3A.
“Enggak nunggu siapa-siapa kok,”
“Masuk yo’ ,” Ajaknya
“Entar ajach,”
“Emang ada apa,”
“udah pergi aja sana,nanti loe juga tau sendiri kok,” Ndut berlalu meninggalkan aku yang merasa bosan harus menunggu segitu lama.
“Yo!!,” Suara itu mengejutkan aku. Ternyata Rahma yang aku tunggu telah ada dihadapanku.
“Kok siang bener, aku udah lama nih nungguin,”
“Emang ada apa,”
“Aku mo minta tolong ama loe,”
“Minta tolong apa ?,”
“Gini, bise ga’ loe kasi’kan surat ini ke Iin,” Aku mengulurkan surat yang telah ku tulis kemarin sore
“Oo……Jadi ceritenye loe na’ ngedeketin Iin yach ?,”
“Enggak kok,”
“Kok pake surat-suratan segala,”
“Aku tu Cuma mo kenal doank kok,”
“Ya udah kalo gitu’ entar aku sampein,”
“udah dulu ya, aku mo masuk nich.entar terlambat lagi,”
“Oke dech,” Aku beranjak meningglkan Rahma bersama temannya si Ria. Kini tak ada lagi kata risau dan penasaran yang akan menggrogoti hatiku lagi. Karena telah kukirim semua bimbang dihati dalam surat itu. Tinggallah kujalani hari dengan ceria.
“Ada ape nich, kok nampak girang bener,” Tanya Lukman yang ternyata memeperhatikan tingkahku kali ini.
“Engga’ ada apa-apa kok,”
“Ah yang bener,”
“Udah nanya ga’ pecaya’ lagi ,” Aku sedikit jengkel
“Abis nampakknya happy banget pagi ini, ga’ kayak kemaren cemberut aja melulu,”
“Hidup manusia itu penuh warna-warni kadang kita akan merasa pahitnya menderita tapi suatau saat kita akan merasakan manisnya bahagia,”
“Wow, kata- kata orang bijak nich,”
“Cape dolo’ Tyo githu loch,’
“he’eh ga’ bise dipuji sedikit, macam na’ terbang jak kelangit,”
“Abis, loe yang mulai duluan,”
“Iya dech”,.
Bel tanda masuk telah bebrbunyi. Sejenak kami hentikan percakapan kami. Kali ini kucoba untuk memeprhatikan semua pelajaran yang diberikan guru. Aku tak mau seperti kemarin lagi. Aku mau hari ini lebih baik dari hri kemarin dan kuharap hari esok akan lebih indah dari pada hari ini.
*****
Dua hari sudah surat kukirimkan. Balasannya tak kunjumg aku dapatkan. Dua hari aku menunggu Siti di depan sekolah namun batang hidungnya tak pernah kelihatan. Rasa risau kembali menggantung dijiwaku. Aku takut kalau semua yang aku tanyakan lewat surat itu mengusik kedamaian hatinya. Aku takut ia tak ingin mengenalku. Namun aku juga sadar, selama ini aku tak pernah mengenalnya. Mungkin saja aku ini asing baginya.
Hari ini aku berangkat agak siangan. Aku tak mau lagi menunngu begitu lama. Biarlah kalau suratku memang tak dijawab. Semua harapanku hampir punah. Perasaan penasaranku sudah hilang ditelan masa.
Siang ini terasa segitu terik. Perlahan kukayuh sepedaku. Tak sabar rasanya ingin cepat pulang melepas lelahku hari ini.
“hei tyo !!!,” Suara itu mengejutkanku. Ria rupanya. Ia juga temannya Iin dan Rahma.
“Ada apa ria?,”
“Ni ada surat dari Iin,” ucapnya seraya mengulurkan sepucuk surat dari saku tasnya.
“oh..thanks yach,”ku raih surat itu dari tangan Ria dengan penuh rasa ingin tahu.
“oh ya….si Rahma mana?, kok dua hri aku tunggu ga’ pernah nongol sich,”
“Kurang tau juga tuch, mungkin berangkat siangan kale,”
“Mungkin ajach sich,”
“Tyo, pulang yo’,” ajak Jian teman sekelasku yang ternyata telah menungguku di sebarang jalan.
“Udah dulu ya Ria, Jian dah nunggu tuch”, ucapku pada Ria.
“Ya udah, tapi inget baca suratnya sendirian ajach,”
“Siip dech,”Aku beranjak meninggalkan Ria.Sedikit kupercepat laju sepedaku, rasanya tak sabar aku untuk segera membaca surat ini.
Tak terasa tiba sudah aku dirumah. Segera kubuka lipatan surat dari Iin itu. Kucoba untuk memahami setiap kta yang ia tulis. Semua begitu jelas seakan tak ada yang ia sembunyikan. Bahkan hal pribadi yang aku tanyakan ia jawab dengan gambalang seperti tanpa beban.
Kini kutoreh lagi beberapa patah kata lewat ujung pena. Penasaranku kini kembali bahkan mungkin lebih dari sebelumnya. Aku kembali mengutarakan beberapa patah tany yang masih bersemayam di hati yang paling dalam. Kucoba mengngatkannya atas Andra. Ingin tahu aku perasaannya atas Si Andra saat ini. Masihkah ia sayang atau sayang itu telah berganti benci. Aku tanyakan semua bukanlah karena aku punya maksud yang tidak baik. Aku hanya taku jikalau aku dianggap ingin menyabet temen dari belakang. aku takut jikalau suratku membuat Iin merasa risih atau tak enak hati.
Esok hari seperti sebelumnya aku berangkat lebih awal. Kurasa biarlah aku menunggu kali ini. Aslkan nanti semua jawaban memuaskan hati.
“Hee’eh nunggu Rahma jak loe teros,’Ledek temenku yang lebih akrab dipanggil Badot. Ternyata ia tahu bahwa beberapa hari ini loe menunggu Rahma.
“Emang apa urusan loe,”
“Nungguin peliat hati nich,”
“Udah dech ga’ usah ngeledek orang. Mending pegi aja sana !,” Aku sedikit jengkel.
“githu ajach marah. Entar cepet tua lagi,”
“Loe ni, dah tau orang marah masih jak banyak bacot,”
“Sorry dech kalo githu,” Badot melangkahkan kakinya pergi menjauh dariku. Sedangkan aku harus kembali bergelut dengan pekerjaan yang sungguh memebosankan, menunggu. Tiba-tiba dari kejauhan kulihat Rahma dan Ria telah tiba. Kuberlari mengejar mereka. Tak ingin aku surat ini menginap semalam lagi.
“Rahma,Ria !!! tungguin donk,”
“Eh Tyo, ada apa lagi nich ?,” tanya Rahma
“Aku mo minta tolong lagi ,”
“Pasti mo ngirim curat lagi yach,” celoteh Ria
“Ah loe, tau-tau jak, kalu iya emang ngape,”
“Emangnya kame’ ni Bu’ Pos ape?,” Gurau Rahma
“Eh masak ama kawan sendiri perhitungan ,”
“Ya udah, mane curatnya,” Kuulurkan surat yang kutulis kemarin.
“He’eh pake amplop segale,”
“Bukannya ape, aku takot kita’ bace dol’. Masa’Iin dapat sisa. Cian donk,” Aku sedikit bergurau.
“Ceileh segitunya. Kame ndak gituk beh,”
“Enggak kok Cuma gurau,”
“udah dulu ya Yo !!!,Kame mo cepet ngantar ni surat,”
“Oke dech, o yach jangan lupa sampaikan salam aku ke Iin,”
“Sieep dech,”Rahma dan Ria berabjak pergi meningalkanku, aku juga mulai melangkahkan kaiku menuju sekolah. Perlahan kulantunkan beberapa lagu kesayanganku. Kulangkahkan kaki dengan riang dihati. Entah mengapa sejak aku sedikit mengenal Iin rasanya kehidupanku berubah. Kehidupanku terasa lebih berwarna.
“gi’ Happy nich,” Darwin menyapaku
“Ya tentu, abies ketemu ama Rahma,” Badot nyeletuk. Ingin rasanya aku memeukul perutnya yang sedikit buncit itu.
“Engga’ kok ,” Kututupi rasa bahagialoe kali ini.
“Kok nampaknya girang bener,”
“Biasa ajach tuch, kemaren juga girang,”
“Tapi pagi ini namapaknya lebih spesial,”
“kalo ga’ pecaya ya udach. Aku juga gak maksa,”
“Oke dech aku pecaya.Eh itu Pak Bambang,Masok yo’,” ajak Darwin. Kami perlahan masuk kedalam kelas. Kembali melaksanakan tugas kami sebagai pelajar yaitu belajar. Pagi ini semngatku lebih baik dari hari kemarin. Entah karena aku penasatanku akan Si Iin berkurang atau mungkin ada hal lain. Aku juga tak tahu. Yang aku tahu hari ini aku bahagia dan kuharap esok aku takkan berduka. Kujalani hari yang penuh warna ini dalam bahagia.
Entah mengapa seak kukenal Iin hidupku semua berubah.hidupku tersa lebih indah. Aku seakan akan ingin memilikinya. Walau aku tak pernah melihat rupa wajahnya.mungkin inilah yang dikatakan cinta. Ia merasuk kedalam jiwa siapa saja. Atau mungkin ini hanya sebatas nafsu yang ingin merusak hidupku. Entah aku tak tahu apa ini. Yang aku tahu rasa suka dan sayang mulai tumbuh dihatiku. Aku tak peduli kami pernah bertemu atau tidak. Yang terpenting aku sayang dia dan loe berjanji suatau saat kan aku ungkapkan ini semua pada dirinya. Dan jikalau ini baukan cinta kuyakin dia akan menghilang dari hatiku karena jika itu memang nafsu maka ia tak pernah abadi. Kuingin mencoba menjalani hingga waktu mebuktikan apakah itu cinta atau nafsu belaka.
*****
Pagi ini masih pagi. Namun sinar matahari sudah segitu terik. Seperti biasa kutunggu Rahma di sepan sekolah. Walau pastinya membosankan tapi kali ini kucoba untuk bertahan. Sesekali kulihat jam di handphoneku. Aku takut terlambat. Waktu sudah pukul enam empat lima. Rahma dan ria tak kunjung tiba. Kesabaranku sudah di ambang batas. Kutinggalkan tempat itu dengan sedikit kesal dihatiku.
“Masa’ jam segini belom datang ,” Guamamku dalam hati.
“Tyo ,”
“Eh lukman, ade ape ?,”
“Ni tadik ada titipan dari Rahma ,” Lukman mengulurkan sepucuk surat. Kuyakin surat itu dari Iin.
“Eh Iin tadi keluar lho ,” Ternyata Lukman sudah tahu hubunganku dengan Iin.
“Ah Bual jak kao ,”
“Masa’ ga’ pecaya’ ,”
“Emang loe ketemu dimana ,”
“Tadi ada di warung deket rumahku itu,” Aku mulai percaya. Yach memang rumah Lukman deket dengan sekolah. Jadi mungkin ajach semua yang ia katakan benar.
“Ia kemarin aku juga lihat di di luar,” Darwin ikut ambil bagian dalam percakapan kami. Ternyata ia juga sudah tau.
“Oh yach, kita’ bedua jangan ampe bilang sape-sape ye, entar aku dikira na’ ngambek cewek Andra ,”
“Emang ngape, die kan dah putos,” Celoteh Lukman.
“Bukannya gitu’ kame’ tak enak ma die. Macam na’ nyerobot dari belakang,”
“Kalau gitu’ masalahnya oke dech. Kame’ ga’ bakalan bilang ma spe-sape,”Kata Darwin.
“Kalau aku sich oce-oce jak,asal nanti istirahat ke kantin,”.
“Udah dolo’ bob. Aku na’ bace curat lo’ ,”
“Bace sama-sama jak,” pinta Darwin
“Kita’ nanti’ jak,”
“Ya dech klo githu,”. Aku bergegas meninggalkan Darwin dan Lukman. Segeraq kubuka lipatan surat yang sedikit kotor itu. Perlahan kubaca sebaris demi sebaris surat yang Iin tulis. Tak ingin kulewatkan walau satu huruf pun. Semua pertanyaanku kali ini ia jawab dengan berterus terang.” Ade’ mo ngejawab cemua p’tanyaan u coz ade’ pecaya’ klo u orangnya bs d’pecaya” begitu tulisnya. Aku sedikit bangga membaca kata yang ia tuliskan itu. Namaun dalam hati kecilku aku takut aku tak mampu menjaga kepercayaannya. Kucoba berjanji pada diriku untuk menjaga semua kepercayaan yang telah ia berikan kepadaku. Lewat surat itu Iin juga bilang kalo sebnarnya ia masih ska ma Andra tapi kalo Andra memang udah ga’ da perasaan gi mo di apain. Batinku kembali menerawang. Bingung aku jadinya. Bagaimana mungkin aku mo nmebak orang yang ternyata masih punya perasaan ama orang lain. “Iin kan dah putos, cobe jak loe tembak. Sape tau die mao’. Cinta kan bise pindah kelain ati ,” Tiba-tiba seperti ada yang membisikkan kata itu kedalam hatiku. Mungkin benar juga bisikan itu. apa salahnya aku mencoba, siapa tau ajach cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Lagian dari kata-katanya itu Iin udah tak berharap lagi akan hadirnya Andra dalam hidupnya lagi.
Sore kembali menjelang. Kali ini kembali kutulis surat buat Iin. Kusampaikan rasa banggaku atas kepercayaannya. Ku juga berterima kasih karena Iin udah mau ngejawab semua pertanyaanku. Kali ini selain surat yang kutulis itu kukirimkan ia dua bait puisi yang telah kutulis sebagai ungkapan rasa cinta yang membayangi jiwaku.
Waktu terus bergulir, petang yang remang berganti malam yang kelam hingga berakhir dengan pagi yang begitu terang. taj seperti sebelumnya kali ini aku menunggu Rahma di rumah Lukman.
“Gimana, Rahmanya dah dateng lom,” tanya Lukman.
“Nampaknya sich belom,”
“Jalan jak lo’, sape tau nanti kite lewat ada di warung tempat biase. Budak tu berangkatnya pagi,”
“Yo’lah kalo gitu,”. Kuturuti kehendak Lukman itu. kurasa ada benarnya juga.
“Tyo..Tyo!,” Suara itu menyapaku. Ternyata benar apa yang Lukaman katakan. Rahma dan Ria memang sudah ada di warung itu.
“Eits, kebetulan nich aku mo nitip……,”
“Suurat ,” Ria memotong kalimatku.
“Nah itu tau,”
“Mana suratnya?, siniin,” Pinta Rahma
“Ga’ sabaran banget,”
“Kame’ mo masuk nich,”
“nich, jangan lupa jangan dibaca sebelom Iin bace,” Ku lempar surat itu kepangkuan Rahma. Segera kutinggalkan warung itu. aku takut ada guru yang melihatku ngobrol ama anak putri. Apalagi ampe ketahuan ngirim surat, bise mampos.
Kini lega sudah hatiku. Tak sabar rasanya aku menunggu balasan suratku itu. Bagaimana reaksi Iin kalo tau perasaanku kepadanya. Mungkinkah ia akan marah ama aku, ataukah ia akan nerima cintaku itu. entah aku tak tahu apa yang akan terjadi. Namun yang pasti hari esok kan kutunggu. Tak ingin aku keingintahuanku bersemayam begitu lama di hatiku.
Pagi itu aku tak menunggu si Rahma. Biarlah Lukman yang mengambil Surat balasan itu. Memang sich aku sudah tak sabar menanti jawaban suratku itu. tapi ku yakin akan lebih baik kalau lukman saja yang mengambilnya. Lagian mending aku ngerjain PR ku yang belom selesai karena tadi malam aku gak sempat ngejainnya.
“Ei ngape loe tadi’ nda’ kerumah,” tanya Lukman pagi itu
“Emang ngape ?, ndak keh loe bise ngambek suratnya,”
“Mane ade aku ngambe’ budaknya ga’ mo ngasikkan. Katanya nanti siang jak,”
“Yaa udah dech kalo gitu’ ,” kulanjutkan kembali pekerjaanku.
Siang itu aku harus kembali bergelut dengan yang namanya menunggua. Ngebosenin memang, tapi kalo emang harus mau bagaimana lagi.Kulihat dari jauh Rahma telah keluar dari sekolah. Berlari aku menemuinya.
“woy mane balasannya,”
“He’eh ga’ sabaran banget nich, penasaran yach ma jawaban Iin,”
“Jawaban ape sich,” aku pura pura tak tahu apa yang Rahma bicarakan.
“Ah jangan pura-pura lagi dech,”
“Loe nembak Iin kan,”
“Mane ade,”
“Kayak kame’ tak tau jak,”
“ah kita’ ni banyak mulot,” Kusambar surat dari tanganRahma dan segera berlari meninggalkannya.
“Woy, hari jum’at kame’ kerumah loe ya,” teriak Rahma
“Terserah kita’ lah,”.Kularikan sepedaku deengan sedikit kencang. Tak sabar aku membaca balasan surat itu kali ini.
Kubaca surat itu perlahan. Aku sedikit kecewa, ternyata cintaku belumlah diterima. Ia masih ragu akan ketulusan cintaku. Ia merasa kami belum pernah bertemu, ia khawatir aku akn menyesal. Mungkin benar apa yang ia katakan, kami memang belum pernah bertemu sebelumnya. Mungkin aku terlalu tergesa-gesa. Aku mulai sadar akan kesalahanku. Kucoba tuk mengerti tapi walu bagaimanapun juga aku tetap kecewa. Hingga akhirnya kubawa kecewa itu dalam tidur panjangku.
*****
Pagi ini seperti hari sebelumnya matahari bersinar begitu cerah. Hari ini adalah hari libur kami anak MTs, yach hari ini memang hari Jum’at. Aku asyik berkutat dengan komputerku menulis sebuah Cerpen. Sebaris demi sebaris kata kuketik lewat ujung jari jemariku. Entah jadi atau tidak, katanya Rahma akn datang ke rumahku hari ini. Sambil terus menanti kuteruskan mengetik Cerpenku.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh , Rahma belum juga datang. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara sepeda motor yang berhenti di rumah tetanggaku. Aku melongo’ lewat jendela. Ternyat Rahma dan temannya. Lalu, siap temannya itu, wajahnya begitu manis.
“Tyo,” panggil Rahma. Aku segera bergegas menemui mereka. Kulihat gadis manis itu menyambutku. Inikah Iin pikirku.
“Ini keh yang namanya Iin,” ku coba untuk menebak.Dia hanya tersenyum.
“Nah, gini’ ni kalau ratunya putri ketemu rajanya putra,” ledek teman Rahma yang lain.
“Terus kalu ini siapa,” tanyaku ingin tahi siapa cewek yang nyeletuk itu.
“oh ini yanti, tak tau keh,” Jawab Rahma.
“Tadik kok, bise tau kalo ini ni Iin,” tanya Yanti
“Ya neebak lah, kame’ kan pinya ikatan batin,” tersenyum.
“Ehm gombal jak,” Iin angkat bicara. Dari suaranya aku bisa menabak kalau dia itu sedikit tomboy.
“Apenye yang gombal, kalau kenyataannya memang gituk,”. Sungguh bahagia aku hari ini. Entah mimpi apa aku semalam. Snungguh aku terkejut akan hadirnya Iin dihadapanku. Sungguh wajhmnya tak jauh dari yang aku perkirakan. Saat dia senyum rasanya remuk hatiku olehnya. Mungkin satu jam kami asik ngobrol. Waktu pukul sebelas tiga puluh sudah. Sebentar lagi waktu jum’at tiba. Kutingglkan Iin dan teman-temannya. Tapi, kami berjanji akan bertemu lagi di rumah Darwin nanti sore. Rasanya belum puas aku memandang wajah manisnya.
Waktu menunjukkan pukul satu. Aku telah menunggu Iin dirumah Darwin. Sayngnya Darwin ternyata tak ada dirumah. Terpaksa aku harus menunggu mereka sendirian. Membosankan memang, tapi jika untuk seseorang yang kusayang mengapa tidak. Aku perlu berkorban. Pukul dua barulah Iin dan temannya tiba.
“Dah lama nungg boy,” tanya Iin
“Dari jam satu aku udah disini,”
“Kan janjinya jam dua,”
“Aku tu ga’ sabaran mo ketemu Iin yang manis,”
“Ha..kan gombal lagi,”
“Aku jujur, bukannya gobal,”
“iyekah ?,”
“Ya iyalah, emangnya aku punya tampang pembohong apa,”
“Nampaknye sich iye,”
“e loe ni,”
“ Gurau jak boy,”
“Tau…tau…, aku ni orangnya gak mudah esmosi, apalagi ama orang yang aku sayangi,”. Iin hanya tersenyum mendengar ucapanku itu. dua jam kami asyik ngobrol, kutanyakan semua tentang diriny. Seskali ia menanyakan tentang si Andra. Walau dihati rasa mendongkol tetapi aku tetap menjawabnya. Kuceritakan semua tentang Andra kepadanya. kuceritakan semua kebaikan Andra. Aku tak mau mengarang cerita untuk menjelek-jelekkan Andra. Aku tak ingin jika aku dianggap bersaing secara tak sehat.
“Gimana In, sekarang kita kan udah bertemu, mau gak jadi doi ku,”
“Gimana yach, kitakan baru kenal jadi aku kita belom mengenal satu sama lain. Sepertinya belumlah kita temenan dulu ajach,”
“Aku ngerti, tapi apa salahnya mencoba,”
“Kamu gak takut dibilang ngerebut Cewk Andra,”
“Apa salahnya, wong kita’ dah pitos. Lagian, itu resiko aku ,”
“Tapi sorry sekarang aku belom bisa,”
“Oke dech kalo gitu kan aku tunggu,”
“Ampe kapan,”
“Ampe mati kale’.”
“gak mungkin lagi,”
“Mungkin ajach, kalo cintaku tulus,”. Iin kembai memamerkan senyum manisnya.
Sore itu sepulang dari rumah darwin, aku kembali menulis surat. Kuungkapkan semua yang belum sempat aku katakan, karena Iin sudah keburu pulang. Lagian tadi aku gak enak kalo terlalu ngomong masalah pribadi karena temen-temen Iin semua ada disitu. Kukirmkan dua puisi karyaku. Kucurahkan semua do’a dan harapanku akan kehadiran Iin dalam hidupku dalam kedua puisi itu..

Nyambungnya kapan….kapan……!!!!! udah bad mood

0 komentar:

Posting Komentar